Setiap tatapan mata memandang Asap putih tinggi menjulang menyentuh angkasa Laksana pilar-pilar kokoh tegak berdiri tak berujung Banyak. Teramat banyak untuk dihitung Burung-burung terbang melayang tanpa arah Tanpa tujuan, mencari hidup yang masih kelam Saat itu juga, Suara bising menabuh gendang telinga yang tenang, senyap, suci, sunyi Mengajaknya untuk pergi dan meninggalkannya Pergi. Menyalami matahari yang bertahta di singgahsana Tak ada bocah yang yang terlelap dalam buaian gesekan biola di keja Siang semakin menjadi. Memanggang daun-daun yang sesak akan asap Tak jauh dari daun yang sesak akan asap, kampung berdiri dikelilingi pagar nan kokoh Hijau larut dalam kesepian, hingga terlalu abai kapten menaruh perhatian Datang hari dimana penanda siang sendirian bertahta dalam watu yang lama Terapung di lautan biru yang bercermin dirinya sendiri didalamnya Hingga cakrawala dirombak jingga – burungpun enggan pulang Tulang tulang daun meringis m...
Fauzar Restu Ginanjar, Kau dapat memanggilnya siapa saja. Kau dpat temukan dimana saja. Dan kau dapat berbicara dengannya, karna dia aku memang benar-benar ada.