Langsung ke konten utama

Postingan

Laporan Tugas Bahasa Jawa "Upacara Adat Nyadran"

TUGAS BASA JAWA UPACARA ADAT NYADRAN Dipun Susun Dening: Wildan Wing Wirawan (02) Fauzar Restu Ginanjar (07) Nurina Oktavianti (23) Retno Hastuti (24) Kelas XII MIPA 4 SMA NEGERI 2 WATES BAB I A.     Dhasaring Panaliten Kebudayaan inggih menika elemen ingkang mboten saged kalepas saking kahuripan manungsa. Wonten satunggal sisi, manungsa nyiptaaken budaya, ananging wonten sisi lain, manungsa prosduk saka budaya kang urip. Sesambetan pengaruh menika butki manungsa moten saged urip tanpa budaya. Kahuripan budaya inggih menika titikan manungsa lan badhe kalampahan dening manungsa. Wonten ing Indonesia kathah ragam kebudayaan. Salah satunggaling inggih menika upacara nyadran. Upacara nyadran yaiku pesta rakyat sing awujud bentuk rasa syukure masyarakat marang Gusti Allah amarga bumi iki bisa dadi sumbere urip. Acara manganan utawa nyadran lumrahe saben desa nduweni dina, tradisi lan panggonan sing beda-beda. Ana sing dirindak...

Fauzar: Siapakah Fauzar?

C ukup lama aku tidak membuka buku harian online atau yang lebih kerennya dipanggil ‘blog’. Sebenarnya kalo materi yang mau di post itu ada, tapi cuma belum kesampean aja. Besok lah kalo sudah aku edit. Oiya. Disini aku mau perkenalan diri saya seperti yang orang lain kenal. Tapi maaf ya kak, dik, om atau mbah kalo bahasa yang aku tulis ini tidak baku dan menyalahi EYD. Aku hanya ingin berbagi saja nggak lebih dan pastinya kurang. Karena manusia nggak ada yang keperluannya tercukupi.  Nama saya Fauzar Restu Ginanjar, saya biasa dipanggil Uzar kalau disekolah (biasanya teman yang belum mengetahui keseharianku) atau juga biasa dipanggil Erge atau Rege (biasanya yang sok kenal sama saya). Filosofi nama saya; Fauzar itu artinya keberuntungan—dari bahasa Arab, Restu artinya juga restu, sementara Ginanjar adalah pahala. Jadi arti nama saya keberuntungan mendapatkan restu untuk pahala. Bisa jadi, bisa jadi. Soalnya aku tanya ke ibukku, jawabnya nggak tau juga   -__- A...

Esay Pendidikan Informal Keluarga Sebagai Pondasi Anak

Pada era globalisasi peluang budaya masuk ke tanah air semain melebar. Dengan demikan Indonesia mempunyai tantangan tersendiri, terutama anak-anak dan pemuda. Mereka adalah pihak yang paling rawan terpengaruh oleh bangsa asing yang sili berganti. Budaya asing itu kebanyakan kurang cocok dengan kepribadian Bangsa indonesia. Seperti yang sudah kita ketahui , sekarang ini banyak budaya barat yang merasuki para generasi bangsa. Mulai dari cara berbusana yang kurang sopan, cara hidup konsumtif, ketergantungan narkotika hingga seks bebas. Kasus kasus tersebut sudah biasa terdengar di telinga kita. Ada banyak cara untuk menanggulangi dampak negatif tersebut. Pendidikan merupakan cara yang paling alternatif untuk mengajarkan kepada para muda menuju masa depan yang lebih baik. Selain pendidikan di sekolahan, pendidikan informal yang dilakukan keluarga sangatlah penting untuk mengajarkan anak berperilaku baik. Tetapi para orang tua beranggapan bahwa kalau sudah menyekolahkan anaknya, ...

Esay Budaya Membaca, “Mari kita jalankan”

Siapa sih yang tidak pernah melihat buku? Kabanyakanya jawabannya pasti tidak ada. Entah itu pelajar, ibu rumah tangga, sampai anak jalanan pasti sudah pernah melihat buku. Ya, buku memang sudah menjadi barang tatapan sehari-hari. Tapi keberadaan buku itu tak semata-mata banyak yang membacanya. Kebeadaannya hanya menjadi tatapan sekilas. Seperti di toko buku,   hanya dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang di depan toko tersebut. Yang memasuknya hanya hitungan orang. Juga di taman bacaan, padahal sudah menawarkan dengan Cuma-Cuma. Tapi penikmatnya hanya beberapa saja. Bukankah dulu waktu kita bersekolah pada jenjang paling rendah, kita dituntut supaya gemar membaca? Katanya dulu dengan membaca kita dapat mengetahui hal-hal yang tidak tahu menjadi tahu, hal-hal yang di anggap kasar kita dapat menghaluskannya. Tetapi skarang hal-hal yang tidak tahu malah menjadi beban yang tidak mau untuk mengetahuinya. Kalau kiat badingkan dengan negara tetangga, Singapura. Di sana, ...

Cerpen Pasundan CC 203

Ini adalah cerpen yang pernah aku ikutkan lomba. Tetapi tidak mendapatkan juara. ya... maklumlah bahasanya masih acak-acakan. Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar. “Nggak, aku nggak akan terpancing emosi sampai akhir perjalanan ini,” kata pemuda berbaju merah yang duduk di kursi paling belakanang di dekat sambungan gerbong. “Pokoke koe ora oleh lunga! Koe ki anak Emak siji-sijine, Nang!” Hanya itu yang diingat dari beribu-ribu kata emaknya. Pikirannya tidak tentram saat ini. Banyak diliputi masalah. Apalagi tadi pagi setelah adzan berkumandang, sebelum matahari menampakan diri berkumandang, pemuda ini memecahkan gelas besar yang akan disajikan kepada bapaknya. “ Mbokyo alon-alon to, Nang! ” seru Bapaknya. “ Ngapunten , Pak. Aku tidak sengaja,” jawab pemuda itu dengan perasaan sangat bersalah. Sedikit mendesah, “Huh... kenapa ini, padahal tidak panas?”             Tidak seperti hari-hari biasanya, wajah...