Langsung ke konten utama

Postingan

Esay Budaya Membaca, “Mari kita jalankan”

Siapa sih yang tidak pernah melihat buku? Kabanyakanya jawabannya pasti tidak ada. Entah itu pelajar, ibu rumah tangga, sampai anak jalanan pasti sudah pernah melihat buku. Ya, buku memang sudah menjadi barang tatapan sehari-hari. Tapi keberadaan buku itu tak semata-mata banyak yang membacanya. Kebeadaannya hanya menjadi tatapan sekilas. Seperti di toko buku,   hanya dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang di depan toko tersebut. Yang memasuknya hanya hitungan orang. Juga di taman bacaan, padahal sudah menawarkan dengan Cuma-Cuma. Tapi penikmatnya hanya beberapa saja. Bukankah dulu waktu kita bersekolah pada jenjang paling rendah, kita dituntut supaya gemar membaca? Katanya dulu dengan membaca kita dapat mengetahui hal-hal yang tidak tahu menjadi tahu, hal-hal yang di anggap kasar kita dapat menghaluskannya. Tetapi skarang hal-hal yang tidak tahu malah menjadi beban yang tidak mau untuk mengetahuinya. Kalau kiat badingkan dengan negara tetangga, Singapura. Di sana, ...

Cerpen Pasundan CC 203

Ini adalah cerpen yang pernah aku ikutkan lomba. Tetapi tidak mendapatkan juara. ya... maklumlah bahasanya masih acak-acakan. Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar. “Nggak, aku nggak akan terpancing emosi sampai akhir perjalanan ini,” kata pemuda berbaju merah yang duduk di kursi paling belakanang di dekat sambungan gerbong. “Pokoke koe ora oleh lunga! Koe ki anak Emak siji-sijine, Nang!” Hanya itu yang diingat dari beribu-ribu kata emaknya. Pikirannya tidak tentram saat ini. Banyak diliputi masalah. Apalagi tadi pagi setelah adzan berkumandang, sebelum matahari menampakan diri berkumandang, pemuda ini memecahkan gelas besar yang akan disajikan kepada bapaknya. “ Mbokyo alon-alon to, Nang! ” seru Bapaknya. “ Ngapunten , Pak. Aku tidak sengaja,” jawab pemuda itu dengan perasaan sangat bersalah. Sedikit mendesah, “Huh... kenapa ini, padahal tidak panas?”             Tidak seperti hari-hari biasanya, wajah...

Esay Piala dunia mengalihkan segalanya

K ita ambil satu contoh yang dewasa ini baru boming di surat kabar apalagi kalau bukan Pemilihan Presiden 2014. Pilpres tahun ini berbarengan dengan perhelatan empat tahunan yang diselenggaraka di negara yang terkenal   akan Tarian Sambanya. Tetapi media masa lebih berat sebelah untuk membicarakan piala dunia. Tidak jarang semua khalayak ramai mengabil tema Piala Dunia 2014. Seperti surat kabar yang mengabil rubrik bola, bahkan sampai satu bendel koran menyuguhkan kata bola di dalamnya. Dalam layar kaca juga tidak kalah dengan rubrik dalam surat kabar. Mulai dari acara hiburan   ataupun iklan televisi yang mengangkat tema Piala Dunia 2014. Juga antena televisi berbayar yang tidak mau menyiakan kesempatan emas ini dengan menampilkan acara-acara khusus Piala Dunia dengan kelebihannya masing-masing. Sepertinya Brazil memang menginginkan pesta empat tahunan ini berlangsung megah. Pada acara pembukaannya saja sudah menampilkan lebih dari 600 penari dan puluhan penyanyi ...

Esay "Karena Sampah Sudah Menjadi Biasa"

“Apakah budaya buang sampah sembarangan sudah menjadi teman hidup?” Itulah pertanyaan yang selalu aku tanyakan dalam benakku. Tepetnya hari ini (Selasa, 17 Juni 2014) sesudah aku mengaji di pondok pesantren di dekat rumahku. Sebut saja namanya Nisa dan Abdul (dia anak kyai). Aku melihat Nisa bermain bola di pelataran mushola. Dari kejauhan Abdul membawa makanan yang diberikan oleh ibunya. Saking gembiranya Abdul membawa plastik makanan itu dengan menaiki sepeda sambil berlenggak –lenggok mengelilingi Puskestren (Pusat Kesehatan Pesantren). Wusss.... dengan gaya ala Valentino Rossi. Nisa yang melihat Abdul membawa makanan itu jadi ingin memintanya. Lantas dia memanggil Abdul dengan suara yang tak karuan kerasnya, “Dul, aku minta jajananmu, Dul!” Seperti sudah mendapatkan sinyal dari kakaknya, Abdul mengayuh sepeda mendekati Nisa yang sedang bermain bola barunya di depanku. Bola itu diberikan dari salah satu Partai yang berkampanye sebelum pemilu tahun ini. Tetapi baru dibuka ...