Langsung ke konten utama

Postingan

Esay Piala dunia mengalihkan segalanya

K ita ambil satu contoh yang dewasa ini baru boming di surat kabar apalagi kalau bukan Pemilihan Presiden 2014. Pilpres tahun ini berbarengan dengan perhelatan empat tahunan yang diselenggaraka di negara yang terkenal   akan Tarian Sambanya. Tetapi media masa lebih berat sebelah untuk membicarakan piala dunia. Tidak jarang semua khalayak ramai mengabil tema Piala Dunia 2014. Seperti surat kabar yang mengabil rubrik bola, bahkan sampai satu bendel koran menyuguhkan kata bola di dalamnya. Dalam layar kaca juga tidak kalah dengan rubrik dalam surat kabar. Mulai dari acara hiburan   ataupun iklan televisi yang mengangkat tema Piala Dunia 2014. Juga antena televisi berbayar yang tidak mau menyiakan kesempatan emas ini dengan menampilkan acara-acara khusus Piala Dunia dengan kelebihannya masing-masing. Sepertinya Brazil memang menginginkan pesta empat tahunan ini berlangsung megah. Pada acara pembukaannya saja sudah menampilkan lebih dari 600 penari dan puluhan penyanyi ...

Esay "Karena Sampah Sudah Menjadi Biasa"

“Apakah budaya buang sampah sembarangan sudah menjadi teman hidup?” Itulah pertanyaan yang selalu aku tanyakan dalam benakku. Tepetnya hari ini (Selasa, 17 Juni 2014) sesudah aku mengaji di pondok pesantren di dekat rumahku. Sebut saja namanya Nisa dan Abdul (dia anak kyai). Aku melihat Nisa bermain bola di pelataran mushola. Dari kejauhan Abdul membawa makanan yang diberikan oleh ibunya. Saking gembiranya Abdul membawa plastik makanan itu dengan menaiki sepeda sambil berlenggak –lenggok mengelilingi Puskestren (Pusat Kesehatan Pesantren). Wusss.... dengan gaya ala Valentino Rossi. Nisa yang melihat Abdul membawa makanan itu jadi ingin memintanya. Lantas dia memanggil Abdul dengan suara yang tak karuan kerasnya, “Dul, aku minta jajananmu, Dul!” Seperti sudah mendapatkan sinyal dari kakaknya, Abdul mengayuh sepeda mendekati Nisa yang sedang bermain bola barunya di depanku. Bola itu diberikan dari salah satu Partai yang berkampanye sebelum pemilu tahun ini. Tetapi baru dibuka ...

Puisi Ampuni Hamba-Mu

5 Agustus 2012 Karya Fauzar Restu Ginanjar Kala merasa resah Teringat masalah yang makin susah Terbayang dosa yang makin menambah Dan raga tak lagi tambah             Terpuruk iman masih ada setetes rasa masih di dada             Walau hidup penuh dosa surga di sana tetap terbuka Ku bukan manusia sempurna, Jalan hidupku hanya sesaat Bagi-Mu aku setitik debu, karena Kau Esa Berdo’a yang kubisa Sembayang pada-Mu ku masih mampu Berharap hidupku tanpa dosa Tuhan . . . tolong ampuni hambamu             Aku memang bukan ahli surga             Tapi aku tak kuasa dengan siksa neraka             Dan aku tahu diriku             Buka...

Cerpen Aku Ingin Sekolah

aku tulis pada 11 Januari 2011 Langit merubah warna menjadi oranye. Burung burung pulang. Lampu jalan bergantian menyala saling bersautan. Azhan Maghrib bergema di sudut Kota Jakarta. Mengingatkan hamba-hamba Allah untuk inga kepada-Nya.             Aku lempar gitar kecilku ke pojok los-los Pasar Minggu yang sudah sepi tak berpenghuni. Hanya segelintir anak-anak pasar saja. Aku masuki lorong tempat biasaku untuk tidur tadi malam. Ku ganti baju kotorku dengan baju muslim dan sarung peninggalan almarhum ayahku. Ku lari keluar untuk mengajak kawan-kawanku pergi bersembayang. Ku cari dari los-los pasar yang kosong. Ku pergi ke masjid terdekat.             Sesudah sholat, aku ajak temanku untuk menghitung hasil ngamen tadi siang. Aku tergolong anak tak bisa berhitung. Maka dari itu aku ajak Cecep untuk menghitung uangku. Kumasukan uang receh-receh itu dalam tas kecilku. ...