Langsung ke konten utama

Fauzar: Harapan dan tumpuan

Selamat malam, pembaca....
Aku baru pertama kali ini lho live blog, maksudnya lewat handphone. Sebenernya ga ada maksud apa-apa aku nulis kali ini, cuma mau ngabarin kalo aku masi berhobi menulis. Ya maklum mas mba jika tulisanku jelek, namanya juga hobi, bukan provesi ataupun ahli. Aku hanya orang biasa yang terlalu banyak harapan dan tumpuan. Harapan yang aku masud adalah aku berharap hidupku selalu menyenangkan dan selalu tertabur senyum manis. Menyenangkan kenapa? Karena aku tahu bagaimana orang-orang dewasa yang berpusing ria bergelut dengan masalahnya. Aku ingin selalu disebut anak-anak lengkap dengan chiki di tangan kiri dan mainan yoyo di tangan kanan. Tertabur senym manis maksudnya apa zar? Apakah sejenis toping di kue gitu? Ah, aku juga bingung mau jawab apa, soalnya udah tak tulis dan males merevisi. Intinya senang tidak bisa lepas dari senyuman. Sepait apapun hidup, cobalah untuk tersenyum, rasakanlah.... Dan selanjutnya tumpuan, tumpuan yg kumaksud adalah aku hidup di tengah-tengah harapan. Ditengah senyumnya (mamak) yang cantik ada harapan untuk kelaknya. Dan dapat kau taukan apa permasalahannya? Ya, aku kadi tumpuan keluarga untuk besok kelak. Ditambah lagi aku laki-laki, anak pertama, dan anak mama. Duh dek... bagaimana caranya aku harus bisa mewujutin harapan dan menebusnya dengan tumpuan. Terimakasih sudah membaca omonganku. Saya fauzar, selamat malammmm.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Tugas Bahasa Jawa "Upacara Adat Nyadran"

TUGAS BASA JAWA UPACARA ADAT NYADRAN Dipun Susun Dening: Wildan Wing Wirawan (02) Fauzar Restu Ginanjar (07) Nurina Oktavianti (23) Retno Hastuti (24) Kelas XII MIPA 4 SMA NEGERI 2 WATES BAB I A.     Dhasaring Panaliten Kebudayaan inggih menika elemen ingkang mboten saged kalepas saking kahuripan manungsa. Wonten satunggal sisi, manungsa nyiptaaken budaya, ananging wonten sisi lain, manungsa prosduk saka budaya kang urip. Sesambetan pengaruh menika butki manungsa moten saged urip tanpa budaya. Kahuripan budaya inggih menika titikan manungsa lan badhe kalampahan dening manungsa. Wonten ing Indonesia kathah ragam kebudayaan. Salah satunggaling inggih menika upacara nyadran. Upacara nyadran yaiku pesta rakyat sing awujud bentuk rasa syukure masyarakat marang Gusti Allah amarga bumi iki bisa dadi sumbere urip. Acara manganan utawa nyadran lumrahe saben desa nduweni dina, tradisi lan panggonan sing beda-beda. Ana sing dirindak...

Puisi Sketsa Rembulan Padam

Hari gelap Dimana setengah hari berubah menjadi hitam Warna-warna terang berubah menjadi remang dan gelap Rembulan, Rembulan datang menyinari ketika hari itu datang Mengganti warna-warna remang dan gelap menjadi terang Kesunyian, Kesunyia yang mencekap kerap kali menemani Berdiri dipojok-pojok sebuah hati, tak mau pergi “Aku tahu kamu hari ini akan datang Aku tahu hari ini juga dirimu akan datang Aku menantikan walau hanya sepatah kata Tetap menunggu dibawah harapan” Angin berhembus Berhembus diantara sebuah perasaan yang terikat oleh janji Mengikat kuat melukai perasan Padam, Bulan sempurna padam, tak ada yang menggantung Tinggal perasaanku yang digantungkan Pohon Digantung diantara pepohonan nan tinggi menjulang Terikat oleh suata zat yang tidak diketahui bentuknya

Puisi Tatkala Kemarin Lusa

Ketika malam mulai berkemas, hari siap dimulai, aku terbangun dari tidur yang kurasa bukan tidur. Tubuhku penuh peluh, pucat pasi. Bekas air terpancar dari rambutku semalam; seorang bersayap bulu-bulu bermahkota mengusap rambutku perlahan; teramat pelan. Aku tertahan dalam gerak, mulutku terkunci mataku terjaga. Tangannya menyetuh daun telingaku dengan lembut; perlahan mulutnya mendekat ke telingaku. Perlahan berbisik, “ Untukmu yang tertidur dibawah rembulan sempurna. Izinkanku melakukannya.” Sesosok itu mengeluarkan cawan dari tangan kanannya; tangan kirinya perlahan memancurkan air. Ditampunglah air itu dalam cawan. Mataku terpejam; semuanya gelap. Aku merasakan air menyiram tubuhku teramat deras. Kuterhanyut dalam sungai yang airnya dingin menggeretak tulang dan tak kutahui muaranya. Sinar mentari melewati bingkai jendela; kemudian bermuara di lensa mataku. Kuterduduk dalam ranjangku. Mencoba menyimpulkan sendiri apa yang terjadi. Teramat pelik untuk dimengerti. Aku mera...