Langsung ke konten utama

Puisi Malam Delapan Belas

"Menggarahkan mata menuju kepergian senja
Jejak jingga larut dalam gelas yang tengah dipegang gagangnya
Aroma dingin teh kental menyelimuti rongga hidung
Terasa teramat hambar, tanpa rasa
Awan bergegas mencari kawan untuk melepas rindu
Kicauan burung bergerak, berterbangan mengilang tanpa selembar bulupun teringgal di dahan
Detik sempurna menjadi menit. Bergerak terus tanpa henti
Aku menghirup nafas pelan, teramat pelan
Ada sesuatu yang belum kubayarkan untuk sebuah perasaan
Daun berjatuhan, jalan basah untuk sebentar
Langkah kaki menuntun ke subuah hati untukku berteduh
Setelah serangkaian pedih kau utarakan.
Aku datang
Saat itu aroma teh berubah hangat, menyentuh tubuhku dengan perasaan
Manis tanpa adanya taburan gula
Malam yang selalu bersepakat untuk gepap. Ternyata aku salah
Terimakasih banyak, Dwi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Tugas Bahasa Jawa "Upacara Adat Nyadran"

TUGAS BASA JAWA UPACARA ADAT NYADRAN Dipun Susun Dening: Wildan Wing Wirawan (02) Fauzar Restu Ginanjar (07) Nurina Oktavianti (23) Retno Hastuti (24) Kelas XII MIPA 4 SMA NEGERI 2 WATES BAB I A.     Dhasaring Panaliten Kebudayaan inggih menika elemen ingkang mboten saged kalepas saking kahuripan manungsa. Wonten satunggal sisi, manungsa nyiptaaken budaya, ananging wonten sisi lain, manungsa prosduk saka budaya kang urip. Sesambetan pengaruh menika butki manungsa moten saged urip tanpa budaya. Kahuripan budaya inggih menika titikan manungsa lan badhe kalampahan dening manungsa. Wonten ing Indonesia kathah ragam kebudayaan. Salah satunggaling inggih menika upacara nyadran. Upacara nyadran yaiku pesta rakyat sing awujud bentuk rasa syukure masyarakat marang Gusti Allah amarga bumi iki bisa dadi sumbere urip. Acara manganan utawa nyadran lumrahe saben desa nduweni dina, tradisi lan panggonan sing beda-beda. Ana sing dirindak...

Puisi Sketsa Rembulan Padam

Hari gelap Dimana setengah hari berubah menjadi hitam Warna-warna terang berubah menjadi remang dan gelap Rembulan, Rembulan datang menyinari ketika hari itu datang Mengganti warna-warna remang dan gelap menjadi terang Kesunyian, Kesunyia yang mencekap kerap kali menemani Berdiri dipojok-pojok sebuah hati, tak mau pergi “Aku tahu kamu hari ini akan datang Aku tahu hari ini juga dirimu akan datang Aku menantikan walau hanya sepatah kata Tetap menunggu dibawah harapan” Angin berhembus Berhembus diantara sebuah perasaan yang terikat oleh janji Mengikat kuat melukai perasan Padam, Bulan sempurna padam, tak ada yang menggantung Tinggal perasaanku yang digantungkan Pohon Digantung diantara pepohonan nan tinggi menjulang Terikat oleh suata zat yang tidak diketahui bentuknya

Puisi Tatkala Kemarin Lusa

Ketika malam mulai berkemas, hari siap dimulai, aku terbangun dari tidur yang kurasa bukan tidur. Tubuhku penuh peluh, pucat pasi. Bekas air terpancar dari rambutku semalam; seorang bersayap bulu-bulu bermahkota mengusap rambutku perlahan; teramat pelan. Aku tertahan dalam gerak, mulutku terkunci mataku terjaga. Tangannya menyetuh daun telingaku dengan lembut; perlahan mulutnya mendekat ke telingaku. Perlahan berbisik, “ Untukmu yang tertidur dibawah rembulan sempurna. Izinkanku melakukannya.” Sesosok itu mengeluarkan cawan dari tangan kanannya; tangan kirinya perlahan memancurkan air. Ditampunglah air itu dalam cawan. Mataku terpejam; semuanya gelap. Aku merasakan air menyiram tubuhku teramat deras. Kuterhanyut dalam sungai yang airnya dingin menggeretak tulang dan tak kutahui muaranya. Sinar mentari melewati bingkai jendela; kemudian bermuara di lensa mataku. Kuterduduk dalam ranjangku. Mencoba menyimpulkan sendiri apa yang terjadi. Teramat pelik untuk dimengerti. Aku mera...